Dari sisi unsur percobaan dilakukan tahun 1987-1989 di Fakultas MIPA UGM. Hasilnya? Dengan Chronometer –alat pengukur unsur buatan Amerika diketahui bahwa unsur yang terkandung dalam kayu “bertuah” menunjukkan level unsur dua kali lipat unsur tosan aji. Jika tosan aji atau pusaka menunjukkan level 50, kayu-kayu “bertuah” menunjukkan level 100. Artinya, media kayu lebih praktis dijadikan “pegangan” atau pemancar unsur metafisika karena tidak ada pantangan tertentu saat membawanya.
Disisi lain Fakultas Kedokteran Hewan UGM juga telah meneliti kayu “bertuah” untuk kepentingan pengobatan. Hasil penelitian tersebut ditemukan banyak kandungan kayu ”bertuah” yang bermanfaat bagi kesehatan.
Kayu memiliki kekuatan pemancar. Misalnya, anda punya niat selamat dari kejahatan maka kayu itu berperan sebagai pemancar yang frekuensinya tidak terukur dan ini sudah dibuktikan secara ilmiah.
Kayu memancarkan unsur, nur atau cahaya. Cahaya memiliki frekuensi sangat tinggi dan gelombang-gelombang molekul ion yang jika dipicu dengan doa dari jalur agama maupun “amalan” dari jalur ilmu, frekuensinya menjadi lebih kuat dan tinggi dan menimbulkan aura.
Energi yang terdapat pada kayu “bertuah” itu terlalu halus dan secara kimiawi terdeteksi. Ketika masih hidup, kayu “bertuah” mengandung zat-zat netrogenium yang sangat tinggi.
Dengan adanya “tuah” atau “daya” yang dimiliki kayu-kayu tersebut sebagian manusia dengan menggunakan akal sehatnya telah memanfaatkannya di dalam kehidupan sebagai penunjang pencapaian sebagian keinginannya, dan itu telah berlangsung semenjak ribuan tahun yang lalu. Ingat saja misalnya kayu Kaukah yang di Timur Tengah diyakini sebagai bahan pembuat perahu Nabi Nuh ataupun tongkat Nabi Musa.